Demikian halnya atas dua nama yang diberi koment di atas. Nai Ambaton
("panggoaran"), nama kecil ialah si Boru Anting-anting Sabungan/Boru
Paromas (puteri Guru Tatea Bulan, "mar pariban"/"sisters" dengan si Boru
Pareme). Si Boru Paromas adalah istri pertama dari Tuan Sorimangaraja
(anak dari Raja Isumbaon). Anak yg dilahirkan si Boru Paromas/Nai
Ambaton, satu, bernama Ompu Tuan Nabolon; namun ada juga penulis yang
menyebut namanya Ompu Sorbadijulu. Anak-anak O Tuan Nabolon inilah si
Bolontua (Simbolon
- seluruhnya), Tambatua - melahirkan banyak marga-marga, Saragitua -
melahirkan banyak marga-marga, dan Muntetua - yang juga melahirkan
banyak marga-marga. Jumlah marga yang termasuk dalam PARNA ada 48 marga.
Fonologi
Bahasa Minangkabau memiliki 20 bunyi konsonan, yaitu /p/, /b/, /t/, /d/, /c/, /j/, /k/, /g/, /?/, /s/, /z/, /h/, /m, /n/, /ñ/, /ŋ/, /r/, /l/, /w/, dan /y/, ditambah dua bunyi lain yang ada pada nama, yaitu /š/ dan /x/. Bunyi /ñ/ dan /ŋ/ tidak muncul di awal nama, kecuali sebagai kata sapaan yang menunjukkan hubungan kekerabatan. Untuk bunyi tertentu, bunyi /f/, /š/, dan /z/ cenderung dilafalkan menjadi /p/, /s/, dan /j/. Misalkan, pada nama ‘Arifin’, terjadi perubahan dari bunyi [f] menjadi bunyi [p] sehingga pemilik nama ini dipanggil dengan sebutan ‘Pin’, atau pada nama ‘Safrizal’ yang dipanggil dengan sebutan ‘Sap’.[10]
Nama-nama orang Minangkabau yang berbau Arab, Eropa, Sanskerta, atau yang berasal dari nama suku lain yang bahasanya berbeda, akan mengalami penyesuaian dengan sistem bunyi yang ada dalam bahasa Minangkabau. Gejala perubahan bunyi tak jarang memunculkan bunyi baru, yaitu bunyi diftong. Contoh: panggilan ‘Maik’ pada nama Rahmat; bunyi /mat/ sebagai bagian dari penggalan kata ‘mat’ berubah menjadi /maik/. Bunyi diftong pada umumnya tidak muncul pada nama panjang.[10]
Aslinya INI NAMA Marga Baru Khusus dari Embong Kemiri
Sebab Bu PARNO FONOLOGINYA TERBALIK
Klo "PIPI" Bilangnya "FIFI"
Klo "PULANG" Bilangnya "FULANG"
PERKENALKAN Nama MARGA BARU dari Embong Kemiri PT.PAL Surabaya
"SI SOEPARNO"
heuheuheuheuhueheh
Fonologi
Bahasa Minangkabau memiliki 20 bunyi konsonan, yaitu /p/, /b/, /t/, /d/, /c/, /j/, /k/, /g/, /?/, /s/, /z/, /h/, /m, /n/, /ñ/, /ŋ/, /r/, /l/, /w/, dan /y/, ditambah dua bunyi lain yang ada pada nama, yaitu /š/ dan /x/. Bunyi /ñ/ dan /ŋ/ tidak muncul di awal nama, kecuali sebagai kata sapaan yang menunjukkan hubungan kekerabatan. Untuk bunyi tertentu, bunyi /f/, /š/, dan /z/ cenderung dilafalkan menjadi /p/, /s/, dan /j/. Misalkan, pada nama ‘Arifin’, terjadi perubahan dari bunyi [f] menjadi bunyi [p] sehingga pemilik nama ini dipanggil dengan sebutan ‘Pin’, atau pada nama ‘Safrizal’ yang dipanggil dengan sebutan ‘Sap’.[10]
Nama-nama orang Minangkabau yang berbau Arab, Eropa, Sanskerta, atau yang berasal dari nama suku lain yang bahasanya berbeda, akan mengalami penyesuaian dengan sistem bunyi yang ada dalam bahasa Minangkabau. Gejala perubahan bunyi tak jarang memunculkan bunyi baru, yaitu bunyi diftong. Contoh: panggilan ‘Maik’ pada nama Rahmat; bunyi /mat/ sebagai bagian dari penggalan kata ‘mat’ berubah menjadi /maik/. Bunyi diftong pada umumnya tidak muncul pada nama panjang.[10]
Aslinya INI NAMA Marga Baru Khusus dari Embong Kemiri
Sebab Bu PARNO FONOLOGINYA TERBALIK
Klo "PIPI" Bilangnya "FIFI"
Klo "PULANG" Bilangnya "FULANG"
PERKENALKAN Nama MARGA BARU dari Embong Kemiri PT.PAL Surabaya
"SI SOEPARNO"
heuheuheuheuhueheh
Comments