Peristiwa di IRIAN JAYA membuat Saya TERPIKIR bahwa Kehadiran "PENDATANG" di suatu Daerah tertentu "MEMANG RENTAN" oleh "ISUE apapun".
Tapi Kalau di Papua atau Irian Jaya,sewaktu Saya Bekerja di Rumah seseorang yang Bernama "BUDI GUNAWAN" Bekas Siswa SD.YP Ketabangkali,yang juga Saudara Kandung atau Saudara Benih dengan seseorang yang Bernama "HENDRY WIJAYA" yang juga SUAMI dari "PIPIT SOLEMAH",yang juga Bapak Benihnya adalah "ADIK DARI Ir. SUKIRMAN" (POLIT BIRO INDONESIA dari PKI)". Dan Ir SUKIRMAN yang sekarang INI Berganti Ir. SAKIRMAN Bernama China "TAN CHIUN TANG" dan Bersaudara Benih dengan seseorang yang dulunya juga Menumpang di Mess PT. PAL Surabaya,karena DIA Merasa "DIRUGIKAN" oleh Pemerintah RI katanya "Orang tersebut",yang Bernama "TAN CHIUN BI"
Dan "TAN CHIUN TANG" Pernah tinggal juga didepan SD.YP. Ketabangkali,yaitu disebelah rumah Keluarga WOENTONO,tetapi Mereka dulunya adalah "PEMILIK BARANG BEKAS2x"
Sedangkan Ninik Woentono Mengenali Christian MEMANG di "SMA FRATERAN Surabaya" dan Mengakui DIRINYA sebagai "MURID SMA Negeri 6 Surabaya"
Dan pada Indira Winduningtyas,Christian Mengakui Dirinya sebagai seorang "MURID SMA FRATERAN Surabaya"
Tapi anehnya Saya Pernah Melihat "Mas Chris" Memakai "BAJU SERAGAM PUTIH ABU2x" BUKAN "PUTIH HIJAU DAUN".....kata Cece Saya..Ninik Woentono
ANEHnya juga.....Indira Winduningtyas TAHUnya...Rumah Christian Johannes Panjaitan atau Christian Johannes Sihombing atau Johannes Wishnu Murti "TINGGAL" di Sebelah Rumah Ninik Woentono,yang juga rumah dari "BUDI GUNAWAN" atau Bekas Majikan Saya di PAPUA
BUDI GUNAWAN itu "PUNYA HOTEL PRODEO" atau HOTEL Bintang 7....heuheuheuhue...
AKU Disana "GA Pernah MASAK"...Tapi DIA KASIH AKU MAKANAN "BASI"
DIA juga yang Bilang "Kenapa Orang ISLAM Suka Makan Makanan BASI?"
ANEH khan......
Dan Ibu Christian juga adalah "PEMILIK TOKO TAS MERK ELIZABETH" di Pasar Genteng Surabaya
Sakirman
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Ir.Sakirman
Ir. Sakirman (1911-1967 ?) adalah salah satu petinggi Politbiro CC PKI. Dia dilahirkan pada tahun 1911, di Wonosobo, Jawa Tengah. Dia juga adalah kakak kandung dari Siswondo Parman, salah satu korban yang diculik Resimen Tjakrabirawa dan meninggal dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S).[1]
Pasca G30S, nasib Ir. Sakirman tidak jelas. Ada yang mengatakan bahwa dia ditangkap RPKAD dan langsung dieksekusi dalam peristiwa pembantaian terduga komunis 1965-1966. Ada juga yang mengatakan bahwa ia melarikan diri ke China atau Rusia.
Latar belakang
Sakirman tidak seperti kebanyakan pimpinan PKI yang berasal dari kalangan rakyat jelata saat itu. Ir Sakirman adalah seorang lulusan ITB (saat itu bernama "Technische Hooge School" (THS)) dan berasal dari keluarga Mangkunegaran. Pada tahun 1965 Ir. Sakirman termasuk generasi tua dengan banyak pengalaman perjuangan. Sesudah proklamasi kemerdekaan 1945, Sakirman bergabung dengan AMRI , Slawi, Tegal. Ia pun terlibat dalam Peristiwa Tiga Daerah di karesidenan Pekalongan yang meliputi Pekalongan, Brebes dan Pembebasan Tegal.
Namanya semakin dikenal luas ketika menjadi pemimpin eksekutif Lasjkar Rakjat Jawa Tengah sekitar tahun 1945. Lasjkar Rakjat tersebut juga mencakup wilayah Jawa Barat. Hanya Lasjkar Rakyat Jawa Barat dipimpin oleh Chaerul Saleh dan Armunanto. Lasjkar Rakyat ini bertujuan antara lain: memerangi buta huruf; meningkatkan kewaspadaan militer
dan menangkap mata-mata musuh; dan melakukan kerja sama dengan rakyat
terutama organisasi-organisasi buruh dan tani. Lasjkar Rakyat dalam
mengefektifkan kerja-kerjanya juga menerbitkan Soeara Lasjkar.
Sejarah kehidupan Ir. Sakirman memang belum banyak ditulis, sehingga
publik tak begitu mengenal siapa dan bagaimana perjalann hidup Sakirman
sebagai pejuang. Walau begitu dari minimnya catatan yang ada, hidup Ir.
Sakirman telah mewarnai sejarah beridirinya Republik Indonesia.
Pada bulan Mei 1946, Amir Sjarifuddin sebagai menteri pertahanan membentuk Biro Perjuangan yang merupakan biro khusus dalam lingkungan Kementerian Pertahanan.
Tujuannya untuk menampung laskar-laskar rakyat yang didirikan oleh
partai-partai dan atau golongan-golongan yang turut berpartisipasi aktif
dalam perjuangan bersenjata untuk mempertahankan kemerdekaan. Djokosuyono
dan Ir. Sakirman diangkat sebagai pimpinan biro dengan pangkat Mayor
Jenderal . Sebelumnya Ir Sakirman juga dipercaya Amir Sjarifuddin
sebagai kepala biro pendidikan politik tentara (Pepolit) dengan pangkat Letnan Kolonel. Pengangkatan Ir. Sakirman ini tentu didasarkan pada aktivitasnya yang tinggi dikelaskaran rakyat.