Skip to main content

Peristiwa 3 daerah "Peristiwa Underbow PKI"

Peristiwa Tiga Daerah
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Cover buku Peristiwa Tiga Daerah
Peristiwa Tiga Daerah adalah judul buku karya Anton E Lucas, seorang indonesianis berkebangsaan Australia. Buku ini diterbitkan pada tahun 1989 dalam bahasa Indonesia dengan nomor ISBN 9794440674. Peristiwa Tiga Daerah menceritakan sejarah revolusi Indonesia yang terjadi antara bulan Oktober sampai Desember, 1945 di wilayah Kabupaten Brebes, Kabupaten/Kota Tegal, dan Kabupaten Pemalang. Subjudul dari buku ini adalah Revolusi dalam revolusi.[1]



Daftar isi  [sembunyikan] 
1 Latar belakang
2 Tinjauan
3 Kesimpulan
4 Lihat pula
5 Referensi
Latar belakang[sunting | sunting sumber]
Peristiwa Tiga Daerah berlatar belakang sosio-ekonomis. Akar-akar sejarahnya sudah ditanamkan sejak lama oleh penguasa-penguasa kolonial. Pengalaman sejarah yang diwarnai dengan tekanan, penindasan, kesengsaraan dan kemelaratan telah membangkitkan rasa benci dan dendam terhadap sistem dan struktur yang telah menyebabkan kesengsaraan itu. Perasaan itu tidak hanya ditujukan terhadap pemerintahan jajahan, akan tetapi juga terhadap penguasa-penguasa tradisional, terutama penguasa-penguasa yang memperlihatkan tanda-tanda kerjasama dengan pemerintahan jajahan itu. Penindasan dan tekanan yang dijalankan oleh kedua elit kekuasaan ini telah menyebabkan terjadinya eksploitasi ganda terhadap rakyat (cf. Onghokham,1985;19), terutama dalam lapangan perekonomian. Keadaan yang demikianlah yang dianggap cukup untuk meledakkan sebuah pergolakan sosial. Peristiwa ini terjadi dalam sebuah keresidenan yaitu Pekalongan. Tiga daerah yang menjadi objek penelitian Lucas di keresidenan ini adalah Brebes, Tegal dan Pemalang dalam kurun waktu yang sangat pendek, antara bulan Oktober sampai Desember 1945. Kondisi perekonomian rakyat di tiga daerah itu sangat buruk pada masa kolonial, terutama pada saat dijalankannya Tanam Paksa. Eksploitasi dalam lapangan ekonomi dijalankan tidak saja oleh pemerintahan jajahan akan tetapi juga oleh penguasa-penguasa tradisional dan pedagang-pedagang kaya, sehingga rakyat jelata, petani kecil serta pekerja dan buruh menjadi sangat menderita. Pengalaman ini kemudian berlanjut pula pada masa pendudukan Jepang.

Rakyat menemui kenyataan ekonomi lebih buruk pada masa ini; adanya wajib setor padi, penjatahan bahan pangan, di samping banyak terdapat korupsi dan penindasan oleh pihak penguasa tradisional dari pemungutan setoran oleh masyarakat. Berita kekalahan Jepang telah diketahui oleh rakyat di tiga daerah, terutama oleh golongan bawah tanah yang pernah melakukan perlawanan aktif selama pendudukan Jepang, seperti golongan komunis terselubung, Negen Broeder, KRI dan Barisan Pelopor yang berideologi Marxis. Setelah kemerdekaan di proklamirkan disambut dengan sangat antusias oleh rakyat. Namun tidak demikian halnya dengan kalangan elit birokratis. Berita ini bagi mereka pada umumnya disambut dengan sikap ragu-ragu. Sikap ini diiringi dengan kekhawatiran akan reaksi Jepang terhadap perjuangan rakyat. Bahkan di antara elit birokratis ini ada yang melarang untuk menaikkan bendera merah putih, karena menganggap bahwa meskipun Jepang sudah kalah, maka penguasa lama (Belanda) akan segera datang kembali. Sikap yang ditunjukkan oleh elit birokratis ini telah melebarkan jurang antara mereka dengan rakyat pejuang. Kenyataan inilah yang telah memancing munculnya gejolak sosial di tiga daerah. Dimulai dengan aksi protes yang dilakukan oleh rakyat terhadap seorang Lurah di wilayah Tegal selatan, kemudian meluas ke daerah-daerah lainnya seperti desa Pekalongan, rakyat menuntut penggantian penguasa. Aksi-aksi daulat serupa berlangsung mendobrak sistem birokrasi serta aksi kekerasan, penganiayaan, bahkan pembunuhan para pejabat desa dan pihak-pihak elit ekonomi lainnya yang dianggap menyengsarakan rakyat. Aksi ini tidak saja meluas akan tetapi juga lebih buas dan liar seperti yang terjadi di Pemalang dan Tegal. Lebih dari itu, peristiwa-peristiwa ini makin meluas menjadi makar politik, ditandai dengan berdirinya Front Rakyat (November 1945) yang berideologi komunis. Kenyataan ini akhirnya mengharuskan pemerintahan pusat turun tangan, sehingga gerakan ini dapat dipadamkan.[2]

Tinjauan[sunting | sunting sumber]
Dalam menyajikan karyanya ini, Anton E. Lucas telah mengkombinasikan antara pendekatan strukturalis dan pendekatan individualis, meskipun yang disebutkan pertama lebih dominan terlihat dalam karya ini. Pendekatan struktural memperhatikan masalah kontinuitas dalam sejarah (cf. : Sartono,1986;108-19). Karena itu Anton E. Lucas menjelaskan revolusi yang terjadi di tiga daerah ini, melihat akar-akar kausalitasnya historisnya pada beberapa fenomena kesejarahan yang terjadi pada waktu-waktu yang jauh ke belakang seperti Tanam Paksa, terutama menyangkut dengan faktor perekonomian. Kondisi-kondisi struktur sosio ekonomis masyarakat dideskripsikan sebagai fenomena yang cukup untuk meledakkan suatu gejolak sosial. Dalam melihat gejolak sosial, Lucas menggunakan teori Marxis dari Karl Marx. Ia melihat adanya dua kelompok sosial yang saling bertentangan, yaitu pihak elit birokratis serta para tuan tanah dan orang-orang kaya sebagai kelompok atas dengan rakyat kecil sebagai kelompok bawah. Gaya hidup kedua kelompok ini berbeda sangat tajam. Perbedaan ini pada akhirnya membawa ‘dendam’ dan kebencian yang mendalam, terutama dari golongan bawah di wilayah ini. Keadaan ini memudahkan pihak-pihak tertentu (baca: komunis) untuk memobilisasi massa untuk melakukan gerakan protes. Koalisi pihak komunis dengan rakyat tertindas ini membentuk sebuah wadah perjuangan yang disebut dengan Front Rakyat atau Gabungan Badan Perjuangan Rakyat Tiga Daerah (GBP3D). Dalam mengemukakan pola kelakuan kolektif dalam situasi revolusi, Lucas menggunakan teori psikologi. Ia menggambarkan gejolak sosial yang penuh kekerasa dan anarkis dengan penjelasan berdasarkan motivasi, sikap dan tindakan kolektif yang dianalisis melalui berbagai faktor prilaku kolektif, seperti kepemimpinan. organisasi, mobilisasi, ideologi dan kondisi sosial. Dalam studinya ini Lucas menggunakan kombinasi sumber tertulis dan sumber lisan. Khusus untuk sumber lisan, ia telah menempuh prosedur sejarah lisan secara mengagumkan. Jumlah informan yang diwawancarai sangat luar biasa yaitu 324 orang yang berasal dari berbagai kelompok sosial, baik yang terlibat dan mengalami langsung peristiwa yang diteliti, maupun yang mengetahui jalannya peristiwa. Klassifikasi informan terdiri dari bekas elit birokrasi, anggota Front Rakyat, kelompok agama, kaum nasionalis, kelompok pemuda, guru serta TKR. Ia telah menyelami lebih jauh bagaimana individu atau kelompok dari berbagai lapisan mengalami sendiri kehidupan mereka dengan pendekatan verstehen seperti yang disarankan oleh Weber (cf. Rex Martin,1977;14-15).[3]

Kesimpulan[sunting | sunting sumber]
Revolusi sosial yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia pasca kemerdekaan pada umumnya dapat diakarkan kepada penderitaan panjang yang dialami oleh rakyat semenjak masa kolonial yang berlanjut hingga masa kemerdekaan. Pada bahagian lain sikap dan prilaku ekonomis dari elit birokrasi dan tuan-tuan tanah tidak kurang pula telah ikut mematangkan situasi bagi munculnya sebuah revolusi. Peristiwa Tiga Daerah yang terjadi di Keresidenan Pekalongan selama bulan Oktober sampai Desember 1945, benar-benar luar biasa, bila dilihat dari bentuk dan karakteristik aksi yang dilakukan. Apa yang disebut dengan “kegaduhan sibernetik” (cybernetic noise)[1] juga terlihat dari aksi rakyat di tiga daerah ini. Dibanding dengan revolusi-revolusi sosial yang terjadi di Indonesia dalam waktu yang bersamaan, maka peristiwa tiga daerah ini terdapat perbedaan mendasar. Revolusi sosial yang terjadi di tiga daerah ini lebih bernuansa kiri (didalangi komunisme). Hal ini dapat dilihat dari pola kepemimpinan serta ideologi yang dianut serta peranan penting yang dimainkan oleh Front Rakyat (komunis) dalam memobilisasi rakyat dalam revolusi sosial ini.[4]

Kabupaten Tegal
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Bandasari · Debong Wetan · Dukuhturi · Grogol · Kademangaran · Karanganyar · Kepandean · Ketanggungan · Kupu · Lawatan · Pagongan · Pekauman Kulon · Pengabean · Pengarasan · Pepedan · Sidakaton · Sidapurna · Sutapranan

Popular posts from this blog

Tentang "KOUMINTANG di JAKARTA,INDONESIA sejak Tahun 1920"

Kuomintang Kuomintang atau Partai Nasionalis Tiongkok ( Hanzi : 中國國民黨; Pinyin : Zhōngguó Guómíndǎng ) adalah partai politik tertua dalam sejarah modern Tiongkok . Partai ini didirikan oleh Sun Yat-sen dengan tujuan revolusi melawan Kekaisaran Qing dan mendirikan Republik Tiongkok demi adanya pembaruan di Tiongkok.   Pada saat ini, berbeda dari Partai Pertama Rakyat , Kuomintang lebih mendukung reunifikasi dengan RRT daripada merdeka. Kepemimpinan Kuomintang berganti nama jabatan dari Perdana Menteri pada zaman Sun Yat-sen, Presiden pada zaman Chiang Kai-shek tahun 1938 dan akhirnya Ketua Partai pada zaman Chiang Ching-kuo. Untuk pertama kalinya, partai yang hampir berumur 100 tahun ini menyelenggarakan pemilihan langsung Ketua Partai pada tanggal 16 Juli 2005 dengan 2 kandidat Ma Ying-jeou dan Wang Jin-pyng . Ma kemudian memenangkan pemilihan ini dengan 70% suara pemilih dan akan memimpin KMT untuk masa jabatan 4 tahun. Ketua Partai dibatasi masa jabatanny...

Tentang "PENYIKSAAN dan PENYANDERAAN KELUARGA SAYA di INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA,Jl. TEHNIK PERANCANGAN BLOK E 3 SURABAYA"

Saya SUDAH TAHU bahwa sebenar2xnya Anak2x Saya "TERLUKA" HATI dan BADANIAH "MEREKA". Bahkan "MEREKA" berdua SENGAJA diletakkan didepan "BAPAK MEREKA" agar supaya "MEREKA TAHU dan TAKUT" pada "PARA PELAKU" yang MEMANG " ORANG2x CARTEL dan SINDIKAT DIAKONI" "MEREKA,PARA PELAKU"..bahkan "MEMASUKKAN atau bahkan MENYIRAMKAN MINYAK PANAS" pada "MATA ASEP KURNIAWAN" dan akhirnya "TERKENA" kaki anak Saya "ROMAN BINTANG KURNIA RAMADHAN" "MEMANG" Saya "AKUI" tidak panas.....TAPI itu "HANGAT" menurut "PELAKU",,,Tapi apabila "TERKENA MATA memang TIDAK SAMA" Dan setahu Saya...."MATA ASEP KURNIAWAN sekarang DISIRAM TINER" oleh "MEREKA ,PARA PELAKU" di Jl. DANAKARYA INDAH BARAT 17A,selatan ATM MANDIRI  Jl. DANAKARYA  INDAH SURABAYA Dan "MEREKA BERDUA" MEMANG ditutup mulut dengan "CARA MER...

Tentang "Peringatan dari Google.Inc"

New sign-in from Chrome on Windows Hi Moerti, Your Google Account bintangtegar150177@gmail.com was just used to sign in from Chrome on Windows . Moerti Rahajani bintangtegar150177@gmail.com Windows Monday, November 28, 2016 9:01 PM (Western Indonesia Time) East Java, Indonesia* Chrome Don't recognize this activity? Review your recently used devices now. Why are we sending this? We take security very seriously and we want to keep you in the loop on important actions in your account. We were unable to determine whether you have used this browser or device with your account before. This can happen when you sign in for the first time on a new computer, phone or browser, when you use your browser's incognito or private browsing mode or clear your cookies, or when somebody else is accessing your account. Best, The Google Accounts team *The location is approximate and determined by the IP address it was coming from. This email can't receive replies. ...